Selamat Ulang Tahun, Kamu

Mungkin kita tidak berakhir dengan tujuan yang sama, namun aku tidak pernah melupakan pada apa yang pernah kita rajut di waktu silam. Mungkin kita telah melewatkan ribuan detik untuk sekadar bicara perihal hari-hari yang kamu lalui; kenangan-kenangan buruk yang ingin dilupakan. Mungkin, kita telah begitu jauh untuk kembali dan berdoa agar realita berubah sehingga kita kembali bersama.

Hari ini; hari di mana aku mengingat dan memikirkan itu semua. Seakan tiada waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu bahwa rindu itu selalu tiba tetiba, lalu menguap begitu saja. Di setiap hari ini, aku merasa ingin sekali lebih dekat satu langkah menujumu, menikmati kenangan lama—sesuatu yang begitu kusesali. Kita pernah begitu dekat tanpa menyadarinya satu sama lain. Jauh sebelum aku tenggelam pada perasaan-perasaan lain di waktu setelahnya. Kamu, ialah seseorang pertama yang menunjukkanku seperti apa rasanya mencintai.

Aku begitu sadar bahwa jarak telah membunuh perjalanan kita masing-masing. Bisa jadi Tuhan telah menutup segala kesempatan yang ada. Namun, entah kenapa, untukmu aku merasa selalu menemukan tujuan. Bahkan, ketika aku terus mengalami kekalahan sedangkan kamu terus menemukan kebahagiaan.

Hari ini, aku hanya ingin merayakan bertambahnya usiamu dengan mengingat segalanya kembali; mencari energi untuk mengatakan yang sesungguhnya padamu. Cinta terkadang memang rumit, karena tidak semua orang bisa menerima kepergian; tidak semua orang bisa menerima pilihan. Bersamamu, aku merasa begitu rumit karena aku telah rela dengan kepergianmu, tetapi sulit menerima realita bahwa kamu telah pamit dari perasaanku.