Aku, Lelaki Bodoh yang Telah Melewatkanmu

picture by unsplash.com

Andaikan aku tiba di waktu yang berbeda, mungkin kita tidak perlu menjalani keterdiaman ini, saling menerka—siapa yang paling mencintai. Tidak perlu saling bertanya, siapa yang paling mampu bertahan?

Sebaliknya, kita saling menenun pertanyaan tentang apakah kita saling mengetahui perasaan satu sama lain. Aku sadar betul, ada ketakutan untuk memulai langkah. Keraguan yang semula tidak ada, kini mulai menyelimuti tetiap langkah yang tercipta.

Semuanya begitu klise: “Apakah aku lelaki yang tepat untukmu?” atau “Apakah kamu mau menjalani hari-hari yang panjang bersamaku?” dan serupa itu lainnya.

Keraguan itu yang pada akhirnya menahan langkah untuk melipat jarak menujumu, tenggelam di dalam asumsi sendiri. Hingga akhirnya kamu berlabuh di dermaga rasa yang bukan aku, sesal itu begitu lama menggantung di dalam dada.

Dan aku menasbihkan diri sebagai lelaki paling bodoh karena telah melewatkanmu.