Jika kita memang ditakdirkan bersama, Tuhan tidak mungkin menciptakan perpisahan di antara. Aku baru menyadari itu setelah kamu benar-benar pergi dan memilih saling menyematkan cincin di jemari manis dengan seseorang yang lain. Aku sadar betul bila luka bisa tergurat begitu saja.

Tiada yang menahu perihal perjalanan menemukan: pada dermaga mana kapalku kelak berlabuh; pada muara apa kelak langkahku berhenti. Aku berteman dengan Hujan kala itu; hidup di kota yang selalu dicintainya, lalu perlahan ia mulai menunjukkanku sosok “kamu” yang menjadi muara penantian itu.

Aku tidak bertanya kepada Tuhan perihal siapa “kamu” itu. Biarlah itu menjadi teka-teki yang kupecahkan di kemudian hari; bersama detik-detik yang melangkah bersamaku. Itulah mengapa, aku bertahan meskipun luka kian menggurat di dalam dada. Menahannya agar tidak mengucur deras keluar.

Di perjalanan itu, pada akhirnya Hujan menuntunku pada dua orang gadis, dua sosok yang menjadi pelabuhan perasaanku secara bergantian. Pada dermaga pertama, perasaanku berlabuh untuk tujuh tahun lamanya. Mencipta lelangkah yang takpernah tertuju pada hatimu. Sampai waktu mengabarkan jika memang kamu takpernah berkunjung ke dermaga itu.

Itulah waktu di mana aku kembali melanjutkan perlayaran dan berlabuh di hatimu¾seseorang di kota hujan. Penantian itu tetap sama, sedangkan kamu sesekali berkunjung dan menyapa, tetapi dengan cepat melupakan. Tetapi denganmu, aku begitu yakin jika suatu waktu nanti kamu akan kembali datang dan bertahan untuk waktu yang lama. Aku begitu yakin meskipun pada akhirnya, kamu hanya mengunjungi kapal perasaan yang lain di dermaga itu¾bukan milikku.

Di titik itulah aku sadar, jika perasaan itu mati ditikam rinduku sendiri.

Aku hilang arah; kapalku lupa ke mana ia hendak berlabuh. Terombang-ambing di atas samudra kesunyian. Mataku kehilangan cahayanya, hanya kegelapan yang mampu ditangkapnya.

Sampai suatu waktu, Hujan kembali berkunjung. Singgah sementara waktu dan berbincang perihal perjalanan yang lama ditinggalkannya. Membicarakan kesempatan untuk kembali memulai langkah yang baru dan benar-benar menentukan muara yang satu. Suatu kesempatan yang kuiyakan karena aku sadar betul, bila di waktu yang tepat, aku pasti akan menemukan “kamu”.